Mungkin Kah Ada Nabi yang Tidak Menikah !!!

Posted by

nabi yang tidak menikah

Antara Nabi Yang Tidak Menikah Dan Anjuran menikah dan larangan membujang

Firman Allah SWT :
ياَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ منْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّ خَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَّ نِسَاءً، وَ اتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِه وَ اْلاَرْحَامَ، اِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. النساء:1

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [QS. An-Nisaa’ : 1]
وَ مِنْ ايتِهِ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لّتَسْكُنُوْا اِلَيْهَا وَ جَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّ رَحْمَةً، اِنَّ فِيْ ذلِكَ لايتٍ لّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ. الروم:21
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Ruum : 21]
وَ لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلاً مّنْ قَبْلِكَ وَ جَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّ ذُرّيَّةً. الرعد:38
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. [QS. Ar-Ra’d : 38]
وَ اَنْكِحُوا اْلاَيَامى مِنْكُمْ وَ الصّلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَ اِمَائِكُمْ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِه، وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ. النور:32
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nuur : 32]
وَ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرّيَاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. الفرقان:74
Dan orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. [QS. Al-Furqaan : 74]
Hadits Rasulullah SAW :
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ اَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. الجماعة
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hai para pemuda, barangsiapa diantara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat”. [HR. Jamaah]
عَنْ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَّاصٍ قَالَ: رَدَّ رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ التَّبَتُّلَ وَ لَوْ اَذِنَ لَهُ َلاخْتَصَيْنَا. احمد و البخارى و مسلم
Dan Sa’ad bin Abu Waqqash ia berkata, “Rasulullah SAW pernah melarang ‘Utsman bin Madh’un membujang dan kalau sekiranya Rasulullah mengijinkannya tentu kami berkebiri”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: جَاءَ رَهْطٌ اِلَى بُيُوْتِ اَزْوَاجِ النَّبِيِّ ص يَسْاَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ ص. فَلَمَّا اُخْبِرُوْا كَاَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا فَقَالُوْا: وَ اَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ ص؟ قَدْ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ اَحَدُهُمْ: اَمَّا اَنَا فَاِنِّى اُصَلِّى اللَّيْلَ اَبَدًا. وَ قَالَ آخَرُ اَنَا اَصُوْمُ الدَّهْرَ وَ لاَ اُفْطِرُ اَبَدًا. وَ قَالَ آخَرُ: وَ اَنَا اَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ اَتَزَوَّجُ اَبَدًا. فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِلَيْهِمْ. فَقَالَ اَنْتُمُ اْلقَوُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَ كَذَا؟ اَمَا وَ اللهِ اِنِّى َلاَخْشَاكُمْ ِللهِ وَ اَتْقَاكُمْ لَهُ. لكِنِّى اَصُوْمُ وَ اُفْطِرُ وَ اُصَلِّى وَ اَرْقُدُ وَ اَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى. البخارى و اللفظ له و مسلم و غيرهما
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Ada sekelompok orang datang ke rumah istri-istri Nabi SAW, mereka menanyakan tentang ibadah Nabi SAW. Setelah mereka diberitahu, lalu mereka merasa bahwa amal mereka masih sedikit. Lalu mereka berkata, “Dimana kedudukan kita dari Nabi SAW, sedangkan Allah telah mengampuni beliau dari dosa-dosa beliau yang terdahulu dan yang kemudian”. Seseorang diantara mereka berkata, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan shalat malam terus”. Yang lain berkata, “Saya akan puasa terus-menerus”. Yang lain lagi berkata, “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya”. Kemudian Rasulullah SAW datang kepada mereka dan bersabda, “Apakah kalian yang tadi mengatakan demikian dan demikian ?. Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan orang yang paling bertaqwa kepada Allah diantara kalian. Sedangkan aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan aku mengawini wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Bukhari, dan lafadh ini baginya, Muslim dan lainnya]
عَنْ اَنَسٍ اَنَّ نَفَرًا مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيِّ ص قَالَ بَعْضُهُمْ: لاَ اَتَزَوَّجُ. وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: اُصَلِّى وَ لاَ اَنَامُ. وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: اَصُوْمُ وَ لاَ اُفْطِرُ، فَبَلَغَ ذلِكَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ: مَا بَالُ اَقْوَامٍ قَالُوْا كَذَا وَ كَذَا. لكِنّى اَصُوْمُ وَ اُفْطِرُ وَ اُصَلِّى وَ اَنَامُ وَ اَتَزَوَّجُ النّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنّى. احمد و البخارى و مسلم
Dan dari Anas, bahwasanya ada sebagian shahabat Nabi SAW yang berkata, “Aku tidak akan kawin”. Sebagian lagi berkata, “Aku akan shalat terus-menerus dan tidak akan tidur”. Dan sebagian lagi berkata, “Aku akan berpuasa terus-menerus”. Kemudian hal itu sampai kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda, “Bagaimanakah keadaan kaum itu, mereka mengatakan demikian dan demikian ?. Padahal aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan akupun mengawini wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
عَنْ قَتَادَةَ عَنِ اْلحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى عَنِ التَّبَتُّلِ، وَ قَرَأَ قَتَادَةُ { وَ لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلاً مّنْ قَبْلِكَ وَ جَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّ ذُرّيَّةً. الرعد:38} الترمذى و ابن ماجه
Dari Qatadah dari Hasan dari Samurah, bahwa sesungguhnya Nabi SAW melarang membujang, dan Qatadah membaca ayat, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”. (Ar-Ra’d : 38). [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah]
عَنْ اَنَسٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ اَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِى الشَّطْرِ اْلبَاقِى. الطبرانى فى الاوسط و الحاكم. و قال الحاكم صحيح الاسناد
Dari Anas RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Barangsiapa yang Allah telah memberi rezqi kepadanya berupa istri yang shalihah, berarti Allah telah menolongnya pada separo agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah untuk separo sisanya”. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath, dan Hakim. Hakim berkata, “Shahih sanadnya]
و فى رواية البيهقى، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِى النِّصْفِ اْلبَاقِى.
Dan dalam riwayat Baihaqi disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang hamba telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan separo agamanya, maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah pada separo sisanya”.

Ini 3 Hal Alasan Nabi Muhammad Menganjurkan Segera Menikah

nabi yang tidak menikah

Nabi Yang Tidak Menikah Syari’at islam mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan Al-qur’an dan sunnah rasul, termasuk dalam hal menikah. Dengan menikah bersatulah sepasang suami istri yang saling mendampingi sehidup semati, baik suka dan duka selalu bersama yang disahkan oleh hukum agama dan hukum negara, sehingga dapat membangun keluarga bahagia dunia sampai akhirat. Amin…

Dalam hal menikah, nabi Muhammad menganjurkan laki-laki untuk segera menikah karena beberapa alasan di bawah ini.

1. Sudah memiliki kemampuan untuk menikah.
Nabi Yang Tidak Menikah – “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang memiliki kemampuan hendaklah ia menikah. Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.” [ HR. Bukhari dan Muslim]
Berdasarkan hadits di atas, seorang laki-laki harus menikah jika sudah memiliki kepampuan. Tentunya kemampuan itu berupa kemapanan baik secara ekonomi dan psikologi dalam membangun rumah tangga. Untuk itu, selayaknya laki-laki yang sudah memiliki kemampuan itu harus segera menikah. Pastinya menikah adalah sunnah nabi Muhammad SAW dan nabi juga mengharamkan bagi laki-laki yang tidak ingin menikah seumur hidup. berikut sabda Nya.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah membantah sekelompok orang yang mengatakan: Orang pertama mengatakan, “aku akan shalat dan tidak tidur”. Yang kedua mengatakan, “Aku akan terus berpuasa dan tidak berbuka”. Orang ketiga mengatakan, “Aku akan meninggalkan perempuan dan tidak akan menikah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.” [ HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad]

nabi yang tidak menikah

2. Menjaga diri dari fitnah wanita.
Nabi Yang Tidak Menikah – Setan mempunyai tiga senjata untuk menggoda dan merayu laki-laki muslim supaya terjerumus pada dosa yang menghantar kepada api neraka. Tiga senjata itu adalah harta, tahta, dan wanita. Dari salah satu senjata itu yang paling dominan sekarang adalah wanita, karena nabi Muhammad saw pernah bersabda.

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.” [ HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.7122]
Oleh sebab itu, untuk menghindari fitnah wanita, kaum laki-laki harus segera menikah. Sehingga menjadi tameng laki-laki dari fitnah wanita dan tidak terjerumus kepada hawa nafsu yang hanya memenuhi nikmat sesaat.

3. Memperkuat iman laki-laki.
Nabi Yang Tidak Menikah – Seorang laki-laki harus senantiasa menjaga dan meningkatkan iman. Untuk itu dengan menikah mampu mencapai itu semua, sebab setelah menikah semua perbuatan yang dilarang kini diwajibkan dan mendapatkan pahala di sisi Allah.

Oleh karena itu, seorang laki-laki untuk bersegera menikah sebab dari kisah nabi adam telah mencontohkan, dimana setan berupaya menggoda nabi adam supaya mengingkari perintah Allah, tapi setan gagal menggoda nabi adam, akhirnya setan berupaya menggoda hawa, dan hawa pun tergoda sehingga nabi adam dan hawa melanggar perintah Allah SWT.
Begitupun dengan laki-laki yang belum menikah, akan banyak sekali godaan dan rayuan setan melalui senjatanya yaitu fitnah wanita agar kamu terjebak pada kenikmatan sesat. Sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW.

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.” [ HR. Bukhari no. 304]
Dari 3 ulasan di atas, laki-laki sangat di anjurkan agar segera menikah supaya tidak terjerumus pada hawa nafsu yang hanya mendapatkan nikmat sesaat. Semoga laki-laki yang belum menikah dilindungi Allah dari segala macam godaan fitnah wanita, serta dimudahkan medapat jodoh dan bisa membangun keluarga bahagia.

Anjuran Menikah Di Bulan Syawwal

nabi yang tidak menikah

Nabi Yang Tidak Menikah – Ada sunnah di bulan Syawwal yaitu anjuran menikah di bulan Syawwal. Bagi yang sudah dimudahkan oleh Allah, bisa melaksanakan sunnah ini.
Setelah bulan suci Ramadhan ada bulan Syawwal, di mana masyarakat sudah mengenal sunnah puasa 6 hari di bulan Syawwal. Akan tetapi ada juga sunnah lainnya di bulan Syawwal yaitu anjuran menikah di bulan Syawwal. Bagi yang sudah dimudahkan oleh Allah, bisa melaksanakan sunnah ini.

Dalil sunnah menikah di bulan Syawwal

‘Aisyah radiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Sebab Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam menikahi ‘Aisyah di bulan Syawwal adalah untuk menepis anggapan bahwa menikah di bulan Syawwal adalah kesialan dan tidak membawa berkah. Ini adalah keyakinan dan aqidah Arab Jahiliyah. Ini tidak benar, karena yang menentukan beruntung atau rugi hanya Allah Ta’ala.

Nabi Yang Tidak Menikah – Bulan Syawwal dianggap bulan sial menikah karena nggapan di bulan Syawwal unta betina yang mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha). Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para walipun enggan menikahkan putri mereka.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi ‘Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua ‘ied (bulan Syawwal termasuk di antara ‘ied fitri dan ‘idul Adha), mereka khawatir akan terjadi perceraian. Keyakinan ini tidaklah benar.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 3/253).

Nabi Yang Tidak Menikah Imam An-Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadits ini. Dan Aisyah Radiyallahu ‘anhaa ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawwal. Dan ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang ber-tathayyur (menganggap sial) hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u (menghilangkan/mengangkat).” (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka)” (Syarh Shahih Muslim 9/209).

Larangan “merasa sial” (thiyarah)

nabi yang tidak menikah

Anggapan “merasa sial” atau “Thiyarah” adalah keyakinan yang kurang baik bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Begitu juga praktek masyarakat kita yang kurang tepat yaitu yakin adanya hari sial, bulan sial bahkan keadaan-keadaan yang dianggap sial. Misalnya kejatuhan cicak, suara burung hantu malam hari dan lain-lainnya. Keyakinan seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam, karena untung dan rugi adalah takdir Allah dengan hikmah . Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam menjelaskan bahwa anggapan sial pada sesuatu itu termasuk kesyirikan. Beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pernah melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap tawakkal” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 429).

Beliau juga bersabda,

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ: الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

“Tidak ada (sesuatu) yang menular (dengan sendirinya) dan tidak ada “Thiyarah”/ sesuatu yang sial (yaitu secara dzatnya), dan aku kagum dengan al-fa’lu ash-shalih, yaitu kalimat (harapan) yang baik” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Inilah Para Sahabat yang Menikah di Usia Muda
Nabi Yang Tidak Menikah – Menikah adalah salah satu sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Karena itu ia pun mendorong para pemuda yang telah mampu untuk menikah agar salah satunya dapat lebih menjaga untuk tidak tergelincir pada zina.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat berharga kepada segenap pemuda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kelompok pemuda yang tidak mempunyai apa-apa.” Beliau bersabda,
“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa sebab puasa bisa menjadi perisai baginya.” (H.r. Bukhari, no. 5066; Muslim, no. 1400)
“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa sebab puasa bisa menjadi perisai baginya.” (H.r. Bukhari, no. 5066; Muslim, no. 1400)

Pada saat itu, setiap sahabat tidak pernah menyelisihi Nabi, mereka yakin bahwa apa yang dikatakan oleh Nabi adalah benar dan baik untuk mereka. Mereka mencintai Nabi karena apa yang disampaikan Nabi telah membuat banyak kebaikan dan kebenaran. Membebaskan mereka dari penghambaan terhadap selain Allah.

Karena itu, para pemuda tersebut segera menunaikan wasiat Rasulullah, betapapun kondisi sulit yang tengah mereka hadapi. Kitab-kita sirah menceritakan untuk kita contoh-contoh pernikahan dini diantara para sahabat.

Kisah pernikahan Abdullah bin Amru bin Ash amat terkenal. Yakni, ketika ayahnya Abu Usaid As-Sa’di menikahkan dirinya dengan seorang perempuan dari kalangan Quraisy.

nabi yang tidak menikah

Nabi Yang Tidak Menikah – Kemudian kisah Jabir bin Abdillah bin Amru bin Haram yang amat terkenal. Ia berkata, “Aku menikah dengan seorang perempuan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya, ‘Wahai Jabir, apakah kamu telah menikah?’ Aku menjawab, ‘Iya.’ Beliau bertanya, ‘Dengan perawan ataukah dengan janda?’ Aku menjawab, ‘Dengan janda.’ Beliau bertanya, ‘Mengapa kamu tidak menikah dengan seorang perawan, sehingga kamu bisa bercanda dengannya?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai beberapa orang saudara perempuan, dan aku khawatir jika istriku menjadi penghalang hubunganku dengan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Sudah benar jika memang demikian. Sesungguhnya, seorang perempuan itu dinikahi karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya. Hendaklah kamu mengutamakan perempuan yang memiliki agama, niscaya kamu tidak akan merugi.’”

Nabi Yang Tidak Menikah – Lalu Usahamah bin Zaid, sebagaimana tertuang dalam kisah Fathimah binti Qais. Dikisahkan, bahwa suaminya menalaknya tiga kali, sedangkan Rasulullah tidak menetapkan keberhakannya untuk mendapat tempat tinggal dan nafkah. Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Jika kamu telah halal (selesai masa iddah), maka beritahukan kepadaku.’” Lalu, ia memberitahu beliau (ketika masa iddahnya telah selesai). Kemudian, Mu’awiyah maju melamarnya, juga Abu Jahm, dan Usamah bin Zaid. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun Mu’awiyah, ia seorang fakir dan Abu Jahm mudah memukul wanita. (Menikahlah) dengan Usamah bin Zaid.” Fathimah berkata dengan tangannya yang bergerak-gerak demikian, “Taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya adalah lebih baik bagimu.” Fathimah berkata, “Maka aku pun menikah dengannya dan aku menjadi gembira.”

Pemuda yang lain adalah Umar bin Abi Salamah yang lahir dua tahun sebelum hijrah. Ia menikah selagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan ia telah bermimpi basah, lalu ia bertanya tentang hukum ciuman bagi orang yang sedang berpuasa. Periode Nabi di Madinah adalah 10 tahun jadi bisa dihitung usia Umar bin Abi Salamah kala menikah belum genap 15 tahun.

Nabi Yang Tidak Menikah – Selanjutnya adalah Abdullah bin Abi Hadrad. Ia bercerita tentang diri pribadinya, bahwa ia menikah dengan seorang perempuan. Ia datang menemui Rasulullah untuk meminta bantuan terkait mahar si perempuan. Beliau bertanya, “Berapa banyak kamu memberinya mahar?” Ia menjawab, “Dua ratus dirham.” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya dalam sebuah ekspedisi perang dan ia berhasil mendapat rampasan perang sejumlah mahar yang ia inginkan.”

Tidak ketinggalan, Abu Al-Yasar Ka’b bin Amru Al-Anshari. Para ahli sirah menetapkan bahwa anaknya masih termasuk golongan sahabat.

Nabi Yang Tidak Menikah – Generasi sahabat adalah generasi pertama yang mendapatkan pendidikan terbaik dari Nabi melalui wahyu Alquran, inilah generasi terbaik. Selain para sahabat yang berusia sama dengan Nabi dan lebih tua, banyak diantaranya pula adalah para pemuda dan anak-anak para sahabat serta yang baru lahir saat Nabi memulai dakwah Islam. Banyak hadits yang diriwayatkan dari generasi sahabat yang masih belia dan masih muda. Pernikahan di usia muda dianjurkan oleh Rasulullah tentu dengan syarat-syarat yang telah beliau tunjukkan dan sampaikan.

MENJAWAB FITNAH PERNIKAHAN RASULULLAH DENGAN ZAINAB BINTI JAHSY

nabi yang tidak menikah

Nabi Yang Tidak Menikah – Pada kesempatan ini saya mau membahas pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy yang kerap menjadi bahan hujatan kristen-kristen penghujat,bahwa Rasul menyuruh Zaid mencerai kan zainab agar Rasul bisa menikahi Zainab.tuduhan lain nya adalah Rasul menikahi isteri bekas anak nya.tuduhan lain nya adalah Rasul membuat ayat-ayat palsu buat memulus kan pernikahan nya dengan zainab.apakah tuduhan-tuduhan itu benar?mari kita bahas dengan cermat dengan berbagai kronologis nya:

KRONOLOGI KE 1:RASULULLAH MENIKAH KAN ZAID DENGAN ZAINAB BINTI JAHSY
Nabi Yang Tidak Menikah – Wajar Rasulullah mencarikan jodoh bagi anak angkat kesayangan nya itu.sebab menikah adalah sesuatu yang harus di tempuh pada tiap manusia normal.maka dari itu,Rasulullah mau mencari kan jodoh bagi anak angkat kesayangan nya itu.maka Rasulullah memilih Zainab binti Jahsy buat menjadi jodoh nya zaid bin haritsah.jika Rasulullah menyukai zainab binti Jahsy,tentu sedari awal Rasul tak akan memberikan Zainab binti Jahsy pada zaid,tetapi Rasulullah langsung menikahi nya sendiri.ini menunjuk kan,sedari awal Rasulullah tak mempunyai niat menikahi dan mencintai dalam hati Zainab binti jahsy seperti yang di tuduh kan para penghujat Rasulullah.

KRONOLOGI KE 2:ZAINAB BINTI JAHSY DAN KELUARGA NYA KEBERATAN MENIKAH DENGAN ZAID
Nabi Yang Tidak Menikah – Sebab Zainab dan keluarga nya adalah keluarga terhormat.sedangkan Zaid adalah kedudukan nya lebih rendah.maka dari itu mereka menolak ketika Rasulullah meminta Zainab agar menjadi isteri zaid.nah,jika Rasulullah telah memendam cinta dan ketertarikan pada Zainab pada saat ini,maka adalah kesempatan emas buat Rasul meminang zainab buat diri nya sendiri.ternyata Rasul tidak melakukan hal itu,dan Rasul malah menasehati zainab agar mentaati Allah dan Rasul-Nya,agar tetap menikah dengan Zaid:

Al-Ahzab:36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍۢ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۭا مُّبِينًۭا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu`min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu`min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Nabi Yang Tidak Menikah – Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah bin Jahsy beserta saudara perempuannya yang bernama Zainab; Nabi saw. melamarnya untuk dikawinkan kepada Zaid bin Haritsah, lalu keduanya tidak menyukai hal tersebut ketika keduanya mengetahui bahwa Nabi melamar saudara perempuannya bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak angkatnya yaitu Zaid bin Haritsah. Akan tetapi setelah turun ayat ini keduanya menjadi rela.Perhatikan,jika saat itu Rasul mencintai dan asmara dengan zainab,maka Rasul tidak akan memberi kesempatan Zaid untuk meminang zainab.malah Rasul memberi Zainab dan keluarga nya ayat Allah agar zainab bersedia di nikahi Zaid.maka,akhir nya Zainab dan keluarga nya rela dengan keputusan Rasul.Maka Zaid pun menikahi Zainab.

KRONOLOGI KE 3:RUMAH TANGGA ZAID DAN ZAINAB TIDAK HARMONIS,ZAID INGIN CERAI KAN ZAINAB
Nabi Yang Tidak Menikah – Karena Zainab merasa tidak Kufu dengan Zaid,maka Zainab bersikap sombong terhadap Zaid.sehingga Rumah tangga mereka tidak harmonis.berikut penjelasan nya:

Sebab turunnya ayat ini ialah karena ada hubungannya dengan pernikahan Zaid bin Harisah binti Jahsy anak bibi Rasulullah saw. Rasulullah saw pernah melamar Siti Zainab binti Jahsy seorang bangsawan Quraisy untuk dinikahkan dengan Zaid bin Harisah bekas seorang hamba sahaya yang sudah dimerdekakan dan telah dipungut oleh Rasulullah saw sebagai anak angkat. Lamaran itu ditolak oleh Zainab dan saudaranya karena dipandang tidak kufu dan sederajat di antara keduanya. Yang satu bekas seorang hamba sahaya dan yang seorang lagi seorang wanita bangsawan keturunan Quraisy. Maka turunlah ayat ke 36 dari surat Al Ahzab ini yang menyebabkan lamaran Rasulullah oleh mereka diterima. Kemudian Zaid dinikahkan kepada Zainab dengan maskawin sebanyak 60 (enam puluh) dirham, kain kudung dan selimut, sebuah perisai, selendang, 50 mud gandung dan 30 kelah koma.
Nabi Yang Tidak Menikah – Adapun hikmah dari perkawinan ini, walaupun ada unsur ketidak senangan dari pihak wanita ialah untuk membatalkan suatu adat kebiasaan yang berlaku sejak zaman Jahiliah di kalangan orang-orang Arab yang ada hubungannya dengan keturunan dan kemuliaan. Kebiasaan itu ialah bahwa mereka mempersamakan antara anak angkat dengan anak kandung di dalam segi keturunan dan hukum pembagian harta pusaka dan tidak boleh menikahi istri bekas anak angkat seperti tidak boleh menikahi menantunya dari anak kandung. OIeh karena itu diturunkan pada permulaan surat ini bahwa Allah Taala tidak menjadikan anak-anak angkat sebagai anak kandung. Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja (ayat 4). Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya supaya membatalkan hukum Jahiliah itu dengan suatu tindakan yang tegas.

nabi yang tidak menikah

Nabi Yang Tidak Menikah – Setelah Zainab di nikahi oleh Zaid bin Harisah atas perintah Nabi. ternyata di dalam kehidupan rumah tangganya tidak ada keserasian antara suami-istri, dan Zaid sering mengeluh dan menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah bahwa istrinya (Zainab) kadang-kadang memperlihatkan kesombongannya sebagai seorang bangsawan. Rasulullah saw sendiri yang sudah mengetahui hikmah dari Allah itu memberi nasihat kepada Zaid: “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”. Karena Zaid tidak dapat menahan penderitaan hatinya lebih lama maka ia menceraikan istrinya Zainab, dan setelah selesai `idahnya ia dinikahi oleh Rasulullah saw, supaya tidak ada keberatan bagi seorang mukmin untuk mengawini bekas istri anak angkatnya.
Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada Nabi-Nya bahwa apa-apa yang terjadi antara Zaid bin Harisah dengan Zainab binti Jahsy itu adalah untuk menguatkan keimanan beliau dengan menegaskan kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan dari hati orang-orang yang lemah imannya. Allah SWT menyuruh Rasul-Nya supaya memperhatikan ucapannya ketika beliau berkata kepada Zaid bin Harisah yang telah dikaruniai nikmat (oleh Allah) dan kasih sayang serta berbagai pemberian dari Nabi “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah berpisah dengan Zainab disebabkan kesombongannya atau keangkuhannya karena keturunan, karena perceraian itu akan mengakibatkan noda kepadanya yang sulit untuk diperbaikinya”.

Nabi Yang Tidak Menikah – Nabi sendiri telah mengetahui bahwa Zaid itu pada akhirnya pasti akan bercerai dengan Zainab, dan beliau merasa berat pula jika hal tersebut telah menjadi kenyataan sebab tentu akan menimbulkan bermacam-macam ocehan di kalangan masyarakat. Nabi menyembunyikan di dalam hatinya apa yang Allah nyatakan, karena Nabi sendiri menyadari bahwa beliau sendiri harus dijadikan suri teladan oleh sekalian umatnya untuk melaksanakan perintah Allah walaupun dengan korban perasaan. Menurut naluri, kebiasaannya manusia takut kepada sesama manusia, padahal Allah yang lebih berhak untuk ditakuti. Oleh beliau dibayangkan bahwa apabila beliau telah nikah dengan Siti Zainab bekas istri anak angkatnya. maka hal demikian pasti akan menjadi buah mulut di kalangan bangsa Arab, karena sejak zaman Jahiliah mereka memandang bahwa anak angkat itu dipersamakan dengan anak kandung. sehingga mereka diharamkan menikahi bekas istri anak angkatnya.
Nabi Muhammad saw diperintahkan oleh Allah Taala supaya jangan menghiraukan ocehan khalayak ramai sehubungan dengan pernikahan beliau dengan Siti Zainab. Tatkala Zaid telah menunaikan hajatnya terhadap istrinya dengan perceraian, maka Allah menikahkan Nabi saw kepada Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi bekas istri anak angkatnya, apabila anak angkat itu telah menceraikan istrinya. Dan ketetapan Allah tentang pernikahan Zainab dengan Nabi itu adalah suatu ketetapan yang sudah pasti. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Tirmizi ra bahwa Siti Zainab sering membangga-banggakan dirinya terhadap istri-istri Nabi lainnya dengan ucapan “Kamu, istri-istri Nabi dinikahkan oleh keluargamu sendiri tetapi saya dinikahkan oleh Allah SWT. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sya’bi bahwa Siti Zainab pernah berkata kepada Nabi saw: “Saya mempunyai kelebihan dengan tiga perkara yang tidak dimiliki oleh istri-istrimu yang lain, yaitu:
1. Kakekku dan kakekmu adalah sama yaitu Abdul Muttalib.
2. Allah menikahkan engkau denganku dengan perantaraan wahyu dari langit.
3. Pesuruh yang ditugaskannya adalah Malaikat Jibril.( SUMBER )

KRONOLOGI KE 4:RASULULLAH MENASEHATI ZAID AGAR MEMPERTAHAN KAN RUMAH TANGGA NYA
Nabi Yang Tidak Menikah – Ketika Zaid sudah tidak tahan hati dengan perbuatan isteri nya,Zaid mau mencerai kan Zainab.Tetapi Rasulullah melarang Zaid,dan menyuruh Zaid mempertahan kan rumah tangga nya:

Imam Bukhari mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Anas r.a., bahwasanya firman Allah swt. berikut ini, yaitu, “…sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya.” (Q.S. Al Ahzab, 37). diturunkan berkenaan dengan anak perempuan Jahsy yaitu Zainab dan Zaid ibnu Haritsah. Ibnu Hakim mengetengahkan sebuah hadis melalui Anas r.a. yang menceritakan bahwa Zaid ibnu Haritsah mengadu kepada Rasulullah saw. tentang ulah istrinya Zainab binti Jahsy, maka Nabi saw. bersabda, “Tahanlah terus istrimu”, maka turunlah firman-Nya, “…sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya.” (Q.S. Al Ahzab, 37).

Imam Muslim, Imam Ahmad dan Imam Nasai ketiganya mengetengahkan sebuah hadis, bahwasanya ketika idah Zainab selesai, Rasulullah saw. berkata kepada Zaid, “Pergilah kepadanya kemudian sebutkanlah bahwa aku melamarnya”. Maka Zaid ibnu Haritsah berangkat kepadanya dan menceritakan apa yang telah dipesankan oleh Nabi saw. kepadanya, maka Zainab menjawab, “Aku tidak berani mengambil suatu keputusan hingga terlebih dahulu aku meminta petunjuk dari Rabbku”. Lalu Zainab pergi ke masjid. Turunlah ayat ini, kemudian Rasulullah menemuinya tanpa izinnya terlebih dahulu. Dan sungguh aku melihat orang-orang diberi makan roti dan daging (sebagai pesta perkawinan) oleh Rasulullah saw. sewaktu beliau memasukiku.

Setelah itu orang-orang bubar keluar, yang tertinggal hanyalah beberapa orang laki-laki yang masih berbincang-bincang sesudah menyantap hidangan walimah itu. Lalu Rasulullah saw. keluar dari rumah dan aku (Zaid) mengikutinya, maka Nabi saw. menengok kamar-kamar istrinya. Kemudian aku memberitahukan kepadanya bahwa orang-orang semuanya telah bubar. Rasulullah saw. berangkat menuju ke rumah hingga masuk ke dalamnya dan aku pun ikut masuk bersamanya. Lalu Nabi saw. menutup kain penutup rumah antara aku dan dia dan turunlah ayat Hijab pada saat itu, lalu Rasulullah saw. menasihati kaum dengan firman-Nya, “Janganlah kalian memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kalian diizinkan…” (Q.S. Al Ahzab, 53).

Rasul tetap menyuruh zaid agar mempertahan kan rumah tangga nya.nasehat Rasul adalah cuma anjuran kepada Zaid saja,sedangkan keputusan nya terserah kepada zaid.dan Rasul tentu tahu,rumah tangga zaid sudah susah untuk di pertahan kan karena perbedaan status.

KRONOLOGI KE 5:WAHYU ALLAH TELAH DATANG BAHWA ZAINAB BINTI JAHSY AKAN MENJADI ISTERI RASUL UNTUK BERBAGAI HIKMAH NYA
Nabi Yang Tidak Menikah – Allah telah mengetahui bahwa Zaid pasti nya akan mencerai kan zainab,maka pada saat genting itu,wahyu Allah turun,bahwa Zainab kelak akan menjadi isteri Rasul.tetapi Rasul tidak menyuruh zaid mencerai kan zainab,zaid mencerai kan atas kemauan nya sendiri.wahyu yang turun itu adalah:

Al-Ahzab:37

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِىٓ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخْفِى فِى نَفْسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَىٰهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌۭ مِّنْهَا وَطَرًۭا زَوَّجْنَٰكَهَا لِكَىْ لَا يَكُونَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌۭ فِىٓ أَزْوَٰجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا۟ مِنْهُنَّ وَطَرًۭا ۚ وَكَانَ أَمْرُ ٱللَّهِ مَفْعُولًۭا

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu`min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Para penghujat islam menafsirkan dengan sembrono ayat yang saya bold merah:

sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.

Bahwa Rasul menyimpan bara asmara kepada isteri anak nya.dan Rasul menyuruh zaid mencerai kan zainab.riwayat yang mengatakan itu adalah batil.zaid mencerai kan isteri nya atas kemauan nya sendiri.

Imam Az-Zuhri Berkata, “Jibril Turun Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Memberitahukan Kepada Beliau Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Akan Menikahkannya Dengan Zainab Binti Jahsy Radhiallahu ‘Anha, Itulah Yang Disembunyikan Oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Dalam Hatinya.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Berkata, “Kesimpulannya Bahwa Yang Disembunyikan Oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Adalah Berita Allah Subhanahu Wa Ta’ala Bahwa Zainab Binti Jahys Radhiallahu ‘Anhu, Akan Menjadi Istrinya. Sedangkan Yang Membuat Beliau Menyembunyikan Hal Itu Adalah Karena Beliau Khawatir Omongan Orang Bahwa Beliau Menikahi Istri Anaknya.
Jadi yang di sembunyi kan Rasul bukan lah bara asmara kepada Zainab,tetapi wahyu Allah bahwa Rasul akan menjadi suami zainab,agar menggugur kan tradisi menganggap anak angkat adalah anak kandung sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *