Menikmati Kesejukan Thaif, Kawasan Dataran Tinggi di Saudi

Posted by

Arab Saudi terkenal dengan panoramanya yang sangat ekstrem. Sepanjang mata memandang hanya gurun tandus yang terlihat. Hamparan pasir luas juga menyelimuti beberapa kawasannya. Kendati ada pepohonan yang menghiasi sabana, namun sedikit yang bertahan hidup. Pohon-pohon itu layu dengan dedaunan yang berselimut debu akibat diterpa cuaca panas.

Namun di balik hawa yang menyengat, Arab Saudi juga memiliki tempat yang sejuk nan sedap dipandang mata. Daerah tersebut bernama Thaif.

Thaif saat ini menjadi salah satu daerah pertanian terpenting di Arab Saudi. Lokasinya terletak sekitar 100 kilometer arah tenggara Kota Mekah. Meski berjarak tak terlalu jauh, daerah itu memiliki iklim yang berbeda dengan Mekah. Hal ini karena Thaif dataran yang berada di ketinggian sampai 1.500 meter di atas permukaan laut.

kami beserta tim Media Center Haji (MCH), Minggu (25/9/2016) waktu Saudi mengunjungi daerah yang menjadi tempat pertama Nabi Muhammad SAW hijrah tersebut. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk menuju lokasi itu jika perjalanan dimulai dari Kota Jeddah. Perjalanan akan lebih singkat bila dimulai dari Mekah, yaitu sekitar satu jam lamanya.

Untuk menuju lokasi, ada angkutan bus Saptco dan taksi liar. Mereka memasang tarif 15 riyal dari Mekah. Sedangkan dari Jeddah, tarif bus agak lebih mahal yaitu 20 riyal.

Namun begitu, mereka yang berkunjung ke sana mayoritas menggunakan mobil pribadi. Di beberapa sudut jalan, pengunjung menghabiskan waktunya dalam suasana kekeluargaan yang diiringi acara makan-makan sambil menikmati kesejukan alam Thaif.

Layaknya puncak di Bogor, Jawa Barat, jalur menuju Thaif pun demikian. Kelokan demi kelokan serta jalan tanjakan mewarnai sepanjang perjalanan. Keindahan liukan jalan itu akan terlihat dari ketinggian yang membentuk seperti huruf S.

Di samping jalan itu, terhampar jurang-jurang cadas serta gunung-gunung yang dihiasi rerumputan di beberapa bagiannya hingga terlihat begitu menawan. Di tambah cuaca berkabut, membuat suasananya mirip di Indonesia.

Atmosfer ke-Indonesia-an semakin terasa saat mencapai puncak di Thaif. Di sisi jalan, banyak penjual jagung bakar yang menjajakan dagangannya. Makanan untuk menemani cuaca sejuk ini dapat dibeli dengan harga lima riyal atau Rp 18.000 per buah.

Untuk mengisi perut yang kosong, di sepanjang jalan tersedia pula warung-warung makan. Menu yang disajikan pun tak jauh dari khas Arab Saudi di antaranya nasi mandi.

Nasi mandi merupakan jenis paket makanan yang berisi nasi rasa kari dengan dua potong ayam bakar. Sebagai lalapan, ada irisan bawang merah serta jeruk nipis di pinggirnya. Makanan tersebut disajikan di atas nampan besar yang porsinya cukup untuk 3-4 orang.

Kota yang terletak di lembah Pegunungan Asir ini juga memiliki julukan ‘Qoryatul Muluk’ atau desa para raja. Disebut demikian karena di kota sejuk ini, terutama di daerah As Safa, bertebaran vila-vila para amir dan konglomerat Arab Saudi. Namun untuk memasuki kawasan itu, diperlukan izin khusus dan pemeriksaan yang cukup ketat.

“Jangan sekali-kali masuk ke tempat itu kalau tidak mau di…krek..” kata Ghada, penjaga warung makan sambil tertawa mempraktikkan tangannya menggorok leher.

Kota Kenangan Pahit Nabi

Kawasan Thaif meninggalkan kenangan pahit bagi Rasulullah SAW. Saat awal dakwah Islam, Nabi SAW melakukan perjalanan ke Thaif untuk menemui Kabilah Tsaqif, penguasa Thaif, guna meminta pertolongan dan perlindungan.

Perjalanan dilakukan setelah istri Nabi, Siti Khadijah wafat pada 619 Masehi dan meninggalnya Abu Thalib, pelindung utama yang juga paman Rasulullah SAW pada 620 Masehi.

Ketiadaan dua sosok tersebut menjadikan tahun itu sebagai amul huzni (tahun kesedihan). Karena dengan wafatnya sosok yang disegani kaum musyrikin Quraisy, membuat mereka semakin berani mengganggu Rasulullah SAW. Karena itu, Rasulullah pun mendatangi kota itu untuk dijadikan tempat berlindung kaum Muslimin dari kekejaman kaum musyrikin Mekah.

Untuk terhindar dari pantauan kaum Quraisy, Rasulullah melakukan perjalan ke Thaif secara diam-diam dengan berjalan kaki. Di sana, ia bersama Zaid bin Haritsah tinggal selama sepuluh hari untuk berdakwah.

Namun di tempat itu Rasulullah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif melempari Rasulullah SAW sehingga kakinya terluka.

Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah membela dan melindungi Nabi. Akibatnya ia terluka di kepala setelah terkena lemparan batu. Akhirnya, Rasulullah berlindung di kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah sambil mengobati lukanya.

Di tengah kesedihan itu, Rasulullah berdoa untuk menambahkan keimanan, keyakinan dan keridhaan atas apa yang dialaminya.

Doa itu pun didengar oleh Allah SWT dengan mengutus malaikat Jibril bersama malaikat gunung-gunung. Ia (Jibril) berkata, “Wahai Rasulullah, maukah engkau jika aku jatuhkan dua gunung kepada mereka? (Jika engkau mau, maka akan aku lakukan).”

Namun Nabi Muhammad tidak menginginkannya. Bahkan ia menjawab, “Aku justru berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka generasi yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.” Demikian hadits nabi yang diriwayatkan Imam Muslim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *