Antara Masjidil Haram, Babus Salam dan Sunnah Nabi

Posted by

UMAT Islam pasti pernah mendengar nama Masjidil Haram. Masjid yang terkenal seantero dunia ini merupakan masjid pertama kali yang dibangun di muka bumi.

Dalam ritual ibadah Haji, Masjidil Haram jadi tempat utama yang dikunjungi para calon haji ketika berada di Makkah. Masjidil Haram dibangun mengelilingi Kakbah yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan salat dimana pun berada di seluruh penjuru dunia mana pun.

Masjidil Haram juga merupakan masjid terbesar di dunia, sebab luasnya menurut Muhammad Ilyas Abdul Ghani mencapai 88 ribu meter persegi dan mampu menampung sekira 220 ribu jamaah yang hendak melaksanakan salat, dikutip dari buku Makkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, karya Zuhairi Misrawi. Namun kini dapat dipastikan luas Masjidil Haram telah bertambah, begitu pula dengan daya tampungnya, setelah dilakukan renovasi.

Masjidil Haram juga jadi masjid yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia, sebab selain jadi arah kiblat dari ibadah umat Islam, Masjidil Haram juga jadi tempat para jamaah melakukan rukun haji, yaitu tawaf, sa’i .

Ketika berada di Masjidil Haram, para jamaah pasti akan merasakan hatinya bergetar dan bibir tidak henti-hentinya mengucap syukur dan pujian-pujian kepada Allah. Salah satu penyebabnya, Masjidil Haram merupakan masjid yang tidak pernah jamaah lihat sebelumnya, arsitektur masjid tidak diserupai dengan masjid mana pun di daerah lain.

Masjidil Haram memang memiliki ciri khas pada arsitekturnya. Jika masjid lain menutup bagian tengahnya dengan kubah, maka Masjidil Haram dibangun dengan bagian tengahnya dibuka tanpa ada kubah yang menutupi atau atap yang melindungi ruangan salat. Sehingga, saat berada di dalam Masjidil Haram, jamaah dapat berdzikir sambil mengagumi pesona langit malam Mekkah yang bertabur bintang-bintang berkelip dengan indahnya.

Sungguhlah sebuah kenikmatan yang tiada tara ketika dapat beribadah di masjid terindah beratapkan langit yang bertabur bintang.

Salah satu alasan yang tidak memungkinkan ada masjid yang arsitekturnya menyerupai Masjidil Haram ialah curah hujan yang tinggi di Indonesia. Sehingga, lebih sering ditemui bentuk masjid seperti Masjid Nabawi yang identik dengan kubah menutupi bagian tengahnya. Kubah-kubah ini biasanya dibuat seindah mungkin agar dapat memikat hati jamaah dan beribadah di masjid.

Kekhasan arsitektur Masjidil Haram tersebut hadir pula dari pintunya yang memiliki kisah tersendiri. Zuhairi Misrawi dalam bukunya mengatakan, “Ketika pertama kali menginjakkan kaki di lokasi Masjidil Haram, aku dan teman-teman langsung mencari pintu Al Salam (Babus Salam), artinya kedamaian. Masuk dari pintu tersebut diyakini oleh sebagian kalangan sebagai pilihan untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.”

Namun, sayangnya, menemukan pintu Al Salam tidaklah mudah. Pasalnya, Masjidil Haram mempunyai banyak pintu. Secara keseluruhan, di Masjidil Haram terdapat 129 pintu. Dengan empat buah pintu utama dan 45 buah pintu biasa yang dibuka selama 24 jam setiap hari. Uniknya lagi, masing-masing pintu di Masjidil Haram memiliki nama, di antaranya Shafa, Darul Arqam, Ali, Abbas, Nabi, Bani Syaibah dan pintu lainnya.

Beberapa jamaah haji meyakini masuk ke Masjidil Haram dari Babus Salam sesuai dengan sunnah Nabi SAW, sehingga akan mendatangkan keberkahan. Terlepas dari keyakinan tersebut, yang jelas masuk melalui Babus Salam akan dapat langsung melihat Kakbah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim dan Hijir Ismail. Sejarah mencatat, saat menaklukkan Makkah, Nabi Muhammad SAW memilih masuk Masjidil Haram melalui pintu Al Salam atau Babus Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *